PILIHAN MATERIAL ATAP GREEN HOUSE

Atap green house merupakan bagian terpenting dari konstruksi green house itu sendiri. Pada dasarnya atap green house harus dirancang untuk tembus cahaya. Gunanya adalah mengurangi intensitas cahaya yang diterima tanaman tanpa mengurangi suplai cahaya yang akan mendukung proses fotosintesisnya. Cahaya yang diperlukan setiap tanaman dengan rata-rata panjang gelombang adalah sekitar 400 – 700 nanometer.

Material yang tembus cahaya tersebut dapat berupa kaca atau plastik. Untuk penggunaan kaca sebagai penutup green house sudah sangat jarang dijumpai. Sebab, pemasangannya sangat beresiko untuk pecah dan sangat memerlukan biaya yang tinggi.

PLASTIK UV UNTUK HIDROPONIK
Itulah sebabnya atap green house yang kita jumpai kebanyakan terbuat dari plastik. Plastik yang digunakan juga bukan plastik biasa melainkan plastik UV. Plastik UV adalah plastik yang dilapisi zat kimia yang berfungsi menangkal sinar ultraviolet (UV) dari matahari yang berlebihan. Jenis plastik UV ini juga beragam jenisnya, tergantung kandungan zat kimianya. Jika kita lihat lagi letak Indonesia ini berada di garis khatulistiwa dan merupakan Negara tropis maka pada umumnya kadar zat kimia plastik UV yang diperjual belikan adalah jenis UV 6%, 8%, dan 12% dengan tebal kira-kira 150-200 micron. Persentase UV ditiap plastik menentukan kemampuannya dalam menahan sinar UV itu sendiri. Maka semakin tinggi persentasenya, semakin besar pula kemampuannya menyaring sinar UV. Pemilihan plastik UV green house sebagai penyarin cahaya, ternyata juga mampu mengurangi resiko tanaman terjangkit virus. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Entomological Society of America bahwa tanaman yang tidak memakai plastik UV terserang virus sekitar 96-100%. Sedangkan, setelah menggunakan plastik UV hanya sekitar 10% saja yang terserang. Berikut ini juga jenis plastik yang biasa dijadikan atap green house :

  1. Fiber Reinforced Polyester
    Fiber reinforced polyester biasa disebut FRP ini harganya lebih terjangkau daripada material kaca. Selain itu, tampilannya pun menarik, tahan lama, dan tahan terhadap pengaruh perubahan cuaca. Tekstur plastik ini lebih fleksibel. Plastik ini gampang dibentuk melengkung, bergelombang atau bentuk lempeng. Namun kekurangannya adalah bahan ini sangat mudah memuai.
  2. Acrylic
    Tipe plastik satu ini sangat kuat menghadapi perubahan cuaca. Acrylic juga merupakan bahan atap green house yang dapat menyerap sinar ultraviolet. Jika digunakan dalam 2 lapis, plastik ini mampu menghantarkan 83% cahaya ke dalam green house dan tidak akan menguning meskipun dipakai dalam waktu yang lama. Namun, kekurangannya adalah plastik jenis ini sangat mudah tergores dan sangat mahal. Tentunya harganya pun sangat mahal.
  3. Polycarbonate
    Untuk material ini, harganya sedikit di bawah Acrylic dengan ciri-ciri lebih tahan, lebih tipis, dan lebih fleksibel dari bahan Acrylic. Namun material ini sangat gampang berubah warna menjadi kuning jika digunakan untuk waktu yang lama, ditambah lagi sangat mudah tergores dan memuai.
  4. Polyvinyl chloride film
    Jenis plastik ini mampu menghantarkan gelombang cahaya yang besar. Sehingga mampu memanipulasi udara menjadi cukup tinggi di malam hari dan menangkal sinar ultra violet di siang hari. Namun, Plastik ini sangat mudah kotor. Sehingga Anda harus rajin membersihkannya agar penghantaran cahaya ke tanaman juga bisa menjadi maksimal.
  5. Polyethylene film
    Nah, bahan atap green house satu ini adalah jenis plastik yang paling murah diantara jenis plastik di atas. Namun, masa pemakaiannya pun cenderung singkat. Sebab material ini mudah tersengat sinar matahari. Bentuknya juga kurang menarik dan memerlukan perawatan yang berkala.
Baca juga   Jenis Tanaman Hias Untuk Green house Yang Sedang Trend

Itulah beberapa pilihan material atap green house. Memilih material sangat dibutuhkan ketika membuat green house karena nantinya akan disesuaikan dengan luas lahan dan ketersediaan dana. Selamat menanam!